Selasa, 14 April 2015

Peran Pemuda Dalam Menghadapi Proxy War


Indonesia merupakan bangsa besar serta mempunyai sejarah yang panjang. Bertambah pesatnya populasi penduduk di dunia tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, air bersih dan energi memicu munculnya konflik-konflik baru. Indonesia sebagai salah satu negara ekuator yang memiliki vegetasi sepanjang tahun akan menjadi arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara.

Energi sebagai latar belakang konflik
konflik-konflik di belahan dunia terjadi akibat persaingan kepentingan antar negara untuk menguasai sumber energi. Invasi ke Kuwait pada 2 Agustus 1990 merupakan jalan pintas untuk memulihkan ekonomi Irak akibat turunnya harga minyak di pasaran internasional. Irak yang mengandalkan minyak sebagai komoditi utama pendapatan negara sangat terpukul dengan adanya perubahan harga minyak tersebut, Dengan mengklaim Kuwait sebagai salah satu provinsi dari Irak, Saddam Husein berharap akan mampu memperbaiki perekonomian negaranya karena bisa menguasai sumur-sumur minyak Kuwait yang bernilai 2,4 miliar dolar AS. Amerika Serikat mengkhawatirkan situasi ini akan menggoyang harga minyak dunia dan mengganggu pasokan minyak ke negaranya. 

Perebutan sumber minyak di Abyel, suatu wilayah di perbatasan antara Sudan dan Sudan Selatan merupakan akar konflik yang terjadi di Sudan. Sudan Selatan yang membutuhkan dua jalur pipa melewati wilayah Sudan untuk menyalurkan minyak ke pelabuhan ekspor di laut Merah menuduh Sudan mencuri minyak yang dialirkan ke pipa tersebut. Sebaliknya, Sudan menuduh Sudan Selatan tidak mau membayar ongkos sewa jalur pipa minyak ini. Hal ini juga terjadi di Nigeria yang dengan kandungan minyak terbesar di Nigeria.

Teori Malthus 1798
Seorang pakar demografi sekaligus politik dari Inggris bernama Thosas Malthus mengeluarkan sebuah teori tentang Prinsip Kependudukan. Malthus meramalkan bahwa jumlah populasi akan mengalahkan pasokan makanan yang menyebabkan berkurangnya jumlah makanan per orang. Teori ini didukung seorang pakar statistik bernama Laurence Smith. 

Kekayaan Alam Hayati Indonesia
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam hayati yang melimpah dilihat dari beragamnya jenis komoditas pertanian dan peternakan sebagai sumber pangan dan pendapatan masyarakat. 

Karet
Indonesia merupakan negara dengan lahan perkebunan karet terluas di dunia, yaitu 3,4 juta hektar. 
Kelapa Sawit
Merupakan salah satu komoditas strategis penghasil devisa negara dari sektor non migas. Kelapa sawit berperan besar dalam meningkatkan produk domestik bruto. 

Kekayaan Alam Non Hayati
Indonesia pernah menjadi anggota OPEC karena merupakan negara pengekspor minyak. Akhirnya resmi keluar keluar dari keanggotaan pada tahun 2008. Ironisnya, Infonesia hanya memiliki cadangan minyak yang akan habis dalam waktu 10 tahun. 
Sisi kepemilikan Migas dan gas metana batubara, hampir diseluruh wilayah di Indonesia saat ini telah diolah oleh perusahaan asing yang memiliki modal besar. 

Gambaran diatas memberikan peringatan kepada kita bahwa tahun ini adalah tahun yang sulit.

Perang Masa Lalu
Kerajaan Sriwijaya yang membentang selat Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya menguasai jalur perdagangan  Selat Malaka, Selat Sunda, Laut jawa, dan Selat Karimata bahkan sampai ke laut Cina Selatan. Mereka mendirikan kerajaan Mataram sebagai satelit. Namun, bukannya saling memperkuat Mataram menantang dominasi Sriwijaya. Terjadilah perang saudara. Akhirnya Rajarendra Chola dari India melihat ini sebagai peluang dan menguasai Selat Malaka. 
Kerajaan ini runtuh bukan karena invasi asing namun karena perebutan kekuasaan yang berujung pada perpecahan yang berakibat pada pelemahan.
Perjuangan yang bersifat kelompok tidak akan mampu membawa bangsa Indonesia mencapai tujuan. Sehingga kita harus menyatukan seluruh energi dari keunggulan-keunggulan yang kita miliki untuk membesarkan bangsa Indonesia. 

Tren Perang Saat Ini
Seiring sifat dan karakteristik perang yang telah bergeser dan seiring dengan perkembangan teknologi. Adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-perang jenis baru, diantaranya perang asimetris, hibrida, dan perang proxy.
Tapi disini saya akan membahas mengenai perang proxy, yaitu adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi resiko konflik langsung yang beresiko pada kehancuran fatal. Melalui perang proxy ini tidak dapat diketahui dengan jelas siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan non state actors dari jauh. Negara musuh akan membiayai semua kebutuhan yang diperlukan oleh non state actors dengan imbalan. Mereka mau melakukan segala sesuatu yang diinginkan penyandang dana untuk memecah belah kekuatan musuh.

Aksi pemuda untuk menangkal proxy war (perang proxy)
Banyak pemimpin yang sudah melupakan nilai-nilai luhur yang sederhana. Pembentukan karakter dimulai dari keluarga, lingkungan, sekolah, dan institusi pemerintah tidak lagi menekankan tentang pentingnya nilai-nilai moral, namun hanya melihat hasil akhir tanpa proses yang benar. 
Kedua kerajaan Sriwijaya dan Majapahit runtuh bukan karena serbuan musuh namun disebabkan konflik dalam negeri yang berkepanjangan. 

Untuk menghadapi musuh dalam perang proxy yang seringkali tidak nyata dan sulit ditebak, mahasiswanya harus memiliki ketajaman untuk mampu mengidentifikasikan musuh dan kepentingannya. Dalami bidang ilmu masing-masing dan jadilah ahli di bidang tersebut. Banyak cara mengatasi persoalan ini, misalnya dengan menyuburkan tradisi wirausaha, menggalakkan seminar, workshop, dan diskusi wirausaha dapat menjadi alternatif gerakan perekonomian. Cara ini merupakan salah satu pencegahan adanya pemuda terpengaruh dan ikut dalam jaringan perang proxy. Melalui gerakan ini diharapkan akan menjawab permasalahan kehidupan pasca kampus. Universitas tidak akan melahirkan pemuda yang betul-betul menjadi pemuda intelektual dan khususnya dapat memerangi masalah perang proxy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar